Showing posts with label Cerita Sahabat. Show all posts
Showing posts with label Cerita Sahabat. Show all posts

Monday, March 5, 2012

Gunung Jimat (2213 mdpl)

Image
Gunung Jimat... Namanya terasa asing bagi para pendaki gunung maupun pecinta alam. Ya, gunung ini bukan merupakan gunung tinggi yg biasa untuk di daki. Hanya gunung kecil yang dikelilingi perkebunan kentang.  Gunung ini terletak di jajaran gunung gunung kecil di dataran tinggi Dieng sebelah utara. Tepatnya berada di desa Pekasiran Kecamatan Batur, Banjarnegara.
Awal cerita, saya selalu penasaran dengan gunung ini ketika pulang dari dieng melewati jalanan Pekasiran dan Kepakisan. Gunung yang di puncaknya terdapat menara dan dapat terlihat dari berbagai arah.
  • terlihat dari jalanan desa Pekasiran dan Kepakisan (kecamatan Batur)
  • terlihat dari desa Surenan (kecamatan Batur)
  • terlihat dari desa Condongcampur (kecamatan Batur)
  • terlihat dari desa Kradenan dan Gerlang (kecamatan Blado)
  • terlihat dari desa Wonopriyo (kecamatan Blado)
  • terlihat dari desa Gunung Alang (kecamatan Blado)
  • dan terlihat jelas dari Telaga Dringo serta Kawah Candradimuka
Di hari yang cukup bebas, saya berpikiran untuk mendaki gunung ini. Setelah lama ditunda, saya niatkan untuk berangkat. Bukan karena hal laen, karena sebelumnya saya belum menemukan orang yang tau dan mau mengantar saya kesana (porter gitu maksdunya he he). Teman yang apes yang saya ajak blusukan alas kali ini adalah pemuda tanggung pribumi desa Gerlang. Namanya kang Diqin, dia seorang karyawan sebuah toko pupuk di desanya. Kenapa saya bilang apes...? Ya karena dia bakal saya suruh ini itu, bawain kamera, bawa bekal makanan kecil dan minuman, naik motor didepan menembus dingin dan kabutnya pegunungan (kalau hujan bakal basah duluan) sekaligus penunjuk jalan karena dia tau daerah yang akan saya tuju.
Kamis
Pukul 5 sore
Saya berangkat sendiri dari rumah dengan motor dan  peralatan seadanya. Kamera, pakaian hangat, jaket tebal dan selebihnya badan yang dipaksakan tangguh ini :cool. Mampir dulu dirumah teman yg kebetulan bokapnya punya usaha budidaya ikan darat. Saya beli ikan Nila 1 kg... buat bakar-bakar nanti malam di tempat kang diqin. (intinya sih buat nyogok dia supaya besok lebih semangat beso mau nganter ke gunung)
Perjalanan santai sehabis hujan menyusuri kebun teh Ngliyer dan hutan tropis di selatan kabupaten Batang, orang sini menyebutnya alas Kluwung. Hutan ini masih asri, masih banyak tanaman besar dan berbagai anggrek hutan. Masih sering dijumpai burung gagak, burung deruk liar ,kucing alas, kelinci hutan, kidang dan celeng. Sampai tiba di perbatasan hutan, daerah ini sudah merupakan daerah konservasi dataran tinggi Dieng yg masuk kabupaten Batang dengan ditandainya lahan yang sudah ditanami sayuran, kentang, kobis, loncang, wortel, kacang babi, lombok bagong dan pohon pepaya kerdil a.k.a carica. Tampak di sebelah timur adalah puncak gunung Kemulan.
Pukul 06.10 petang
Sampai di pertigaan Gerlang, berhenti disebuah toko pupuk yg dihuni kang Diqin. Ikan yang aku bawa langsung aku kasih ke sifa, adik sepupu perempuan kang Diqin buat bersihin lalu dibakar. Oh ya...Sifa adalah perempuan desa, perempuan gunung, usianya masih 16 tahun. Ia sering di toko pupuk buat bantuin jaga dan bersih-bersih disana. Orangnya ramah dan masih lugu.
Selagi ikan dibersihkan saya dan kang Diqin menyiapkan bara api untuk membakar. Acara bakar-bakar dimulai, saya dan kang Diqin bergantian meliuk-liukan kipas tangan supaya bara tetap mengangah, sementara sifa  bikin sambal kecap. Setelah semua ikan matang, kami melahapnya bertiga sampai habis. Kenyang...
Praktis tidak ada kegiatan apa-apa setelah makan malam, hanya tiduran di depan tv, selimut tebal dan menunggu mata mengantuk. Kami bertiga tidur di toko dan sifa tidur di kamar belakang. Sunyi senyap, suara-suara hewan malam dan sesekali atap seng berbunyi kala tertiup angin yang agak kencang.
Pukul 10 malam
zzz...
Jumat
Pukul 7 pagi
Bangun dengan hawa yang cukup dingin. Setelah mata melek masih saja  tetap dibalik selimut sambil nonton tv. 30menit kemudian bangkit dari pulau kapuk, cuci muka dan bergegas keluar. Mencari hangat mentari pagi alias berjemur atau kalau orang jawa bilang "karing". Sembari melihat anak-anak berangkat sekolah (kebetulan depan toko adalah sebuah sekolah dasar). Sekolah disini masuk pukul 8. Kenapa? Jarak antar kampung sampai sekolah disini cukup jauh, jalanya aspal hancur, kalau hujan lumpur dimana-mana. Belum lagi gurunya yang rumahnya sekitar 15km dari sekolah dan harus menempuh jalanan tengah hutan yang rusak.
Di depan toko banyak petani berlalu lalang menuju ladang masing-masing, tak sedikit pula mampir ke toko untuk membeli pupuk atau obat hama tanaman sayur. Tempat yang strategis untuk berbisnis pertanian.
Pukul 9 pagi
Setelah semua siap, saya dan kang Diqin segera berangkat. Berboncengan dan saya dibelakang dengan tujuan bisa sambil tengok kanan kiri lihat pemandangan pagi sekitar sini. Melewati desa Sidongkal dan  Wonopriyo. Dari Wonopriyo menara gunung Jimat sudah terlihat. Dilanjut memasuki hutan pinus dan kemudian memasuki kawasan gunung Petarangan. Lanjut ke desa terakhir, yaitu desa Gunung Alang. Desa buntu dibawah kaki gunung Jimat. Motor kami titipkan di salah satu teman kang Diqin di desa tersebut.
Pukul setengah 10 pagi
Kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Sembari bertanya ke para petani yang kami jumpai di sepanjang perjalanan. Kang Diqin hanya mengetahui 1/2 akses jalan ke puncak gunung tersebut. Banyak para petani yang bilang tidak tahu lagi jalan menuju puncak karena jalanya sudah jarang dilewati dan tertutup rumput tinggi. Hanya 1 petani yang tau jalan ke puncak dan kami diberi gambaran beserta simpangan-simpangan yang harus kami tempuh. Dengan modal nekat dan rasa ingin tau yg tinggi kami memulai langkah dari kaki gunung. Bekas jalan masih nampak tetapi sudah tertutup rerumputan tinggi. Disini saya masih sempat menjumpai tanaman Kantong Semar (Nepenthes) dan memotretnya beberapa kali. Semoga spesies yang sudah semakin langka ini tetap bertahan dihabitat aslinya dan jauh dari tangan jahil warga sekitar.
Pukul 10 pagi
Setelah menempuh reremputan tinggi itu, kami sampai pada punggungan gunung, dari sini desa desa di sekitaran Dieng sudah mulai nampak dan puncak gunung Jimat sudah semakin jelas. Kami melanjutkan perjalanan menerobos tanaman alang-alang dengan tinggi sedada. Hampir tidak ada jalan tersisa disini, kami membuat jalan sendiri dengan membelah duren... eh rumput maksunya...
Menara gunung Jimat sudah semakin dekat dan kami melewati tanjakan terakhir, berupa savana di puncak gunung.
Sekitar pukul 11 siang
Kami sampai di puncak gunung Jimat, kami sampai di menara setinggi kurang lebih 15 meter yang terlihat dari mana mana itu *lebay. Kang Diqin mulai memanjat tangga dari menara tersebut dan berdiri diatas (ada semacam tempat duduk yang cukup untuk 4 orang diatas). Saya tidak berani karena angin yg cukup kencang, takut kawur he he...
Saya cukup istirahat dibawah menara sambil minum dan manyantap perbekalan yang kami bawa. Dari spot ini terlihat :
  • Desa Pekasiran dan Kepakisan
  • PLTU Geodipa Dieng
  • Telaga Sewiwi
  • Gunung Nagasari
  • Gunung Sipandu
  • Gunung Butak
  • Gunung Klaras
  • Bekas retakan gunung Pangamun-amun (Tragedi desa Legetang)
  • Kawah Candradimuka
  • Dan view yang paling fenomenal (*lebay) adalah bekas letusan kawah gunung Petarangan beratus tahun silam yang kini terisi air atau tante wikipedia menyebutnya "Telaga Dringo"
Dari sudut ini telaga Dringo terlihat lebih indah daripada ketika saya berada di dekat telaganya. Gunung Petarangan lebih terlihat sebagai gunung dan telaga Dringo sebagai kawah mati di puncaknya. Tinggi gunung Petarangan adalah 2135 mdpl, lebih rendah daripada gunung Jimat 2213 mdpl.
Pukul Setengah 12 siang
Kira-kira setengah jam kami mengahabiskan waktu dipuncak, kami tidak bisa bersantai mengingat harus segera turun ke kampung dan jumatan. Saya yang dipaksa untuk puas dan sejenak mematikan rasa penasaran yang sudah terjawab akhirnya bergegas turun. Ditambah mendung dan kabut yang mulai naik. Jalur yang kami tempuh pun berbeda dari saat kami naik. Tanpa navigasi darat kang Diqin berani mengambil arah memotong jalan (pengalaman, feeling dan positioning orang setempat sangat berguna disaat seperti ini kali ya) Kami melewati rerumputan yang lebih tinggi dari jalan berangkat. Kang Diqin terus mencari jalan diantara semak belukar dan saya mengikutinya di belakang. Saya Sempat merasa takut kalo bakal tersesat di labirin gunung Jimat, ditambah kabut yang semakin tebal membuat jarak pandang pendek dan gak tau arah. Jalan yang kami tempuh semakin menurun menuju  jurang dan tak lekas menemui jalan penduduk atau ladang pertanian. Saya sempat berpikiran yang tidak tidak setelah mengingat ini adalah jumat kliwon... (dalam hati gak elit banget mati di gunung Jimat :hammer:)
Tapi alhamdulilah kami menemui jalan kecil yang biasa digunakan petani antar ke dua desa, Pekasiran dan Gunung alang. Kami mengikuti jalan tersebut sampai ujung lahan pertanian desa Gunung alang, tempat pertama saya bertanya-tanya kepada petani. Kami bergegas ke kampung untuk jumatan walau akhirnya tidak cukup waktu. Sesampai kampung sholat jumat sudah selesai :norose
Pukul 12.25 siang
Kami segera menuju rumah temen kang Diqin untuk mengambil motor. Karena sesampai kampung hujan kami disuruh mampir. Adat orang di pegunungan Dieng, tamu tidak dipersilahkan duduk di ruang tamu, melainkan duduk di dapur dan depan tungku kayu bakar. Biar hangat...
Beberapa hidangan dan teh panas pahit tersaji di meja, ditambah nasi hangat, telur dadar dan sayur lombok bagong (baru kali ini ngrasain sayur lombok bagong)
Kami mengobrol dengan warga setempat yang kebetulan berada bersama di depan tungku sambil menunggu hujan reda. Saya asik nanya ini itu tentang gunung Jimat. Dari obrolan tersebut dapat diambil beberapa kesimpulan :
  • Warga setempat pun sudah jarang yang mendaki sampai puncak gunung Jimat
  • Warga setempat tak mengetahui fungsi menara yang berada dipuncak gunung Jimat
  • Pemuda disana tak mengetahui jalur ke puncak gunung Jimat
  • Terdapat sebuah goa dikaki gunung Jimat sebelah utara (semoga suatu saat diberi kesempatan buat menengoknya)
Pukul 2 siang
Kami bergegas pulang setelah hujan agak reda. Melewati telaga Dringo yang tadi saya nikmati view nya dari puncak gunung Jimat. Sampai di toko pertanian nya kang Diqin, istirahat sebentar dan selanjutnya pulang kerumah.
Beberapa kesimpulan dari saya sendiri :
  • Salah satu spot yang menarik di jajaran pegunungan dieng yang belum terjamah banyak orang terutama oleh wisata Dieng
  • Bisa melihat beberapa view menarik dari puncak sini, seperti yang sudah dijelaskan diatas
  • Salah satu gunung yang hampir tidak ada tanaman kerasnya, hanya rumput tinggi dan semak belukar
  • Masih ditemukanya habitat Kantong Semar (Nepenthes)
  • Belum ada jalur yang tersedia untuk menuju puncak
  • Tidak ada sampah plastik/non organik di puncaknya
  • Area yang pas buat ngegalau :malus
Suatu saat saya akan mencoba kembali mengunjungi gunung ini, mencoba bermalam dan mencicipi sunrisenya... siapa berminat? he he he
Perjalanan berangkat, lembah Gerlang
ImageImage
Gunung Kemulan (tengah)Image
Anak sekolah SD GerlangImage
Gerlang pagiImage
Kang Diqin
Image

Telaga DringoImage
Gunung Jimat dari telaga Dringo
Image
Nepenthes (Kantong Semar)ImageImage
Trek AwalImage
Desa Gunung alang (tertutup bukit)
Image
Gunung Nagasari
Image
Kawah Gunung Petarangan a.k.a Telaga Dringo dari Puncak Gunung Jimat
Image
Retakan gunung Pangamun-amun (tragedi Legetang) di kejauhan Gunung SipanduImage
Pemandangan SekitarImage

Dieng Plateau AreaImage
Menara Gunung JimatImage
Kang DiqinImage

Telaga Dringo ZoomImage
Areal Pertanian
Image
TS :malus
Image
Kawah CandradimukaImage
Menara tertutup kabutImage



sumber : kalderaprau (kukuh)

Thursday, February 9, 2012

Remember You


Remember You…
judul poto ini, yang saya juga ga sempet nanya yang ngedit dan ngasih judulnya siapa… terlalu Iya Bgt gitu skrg… (aseeekk…)
mereka-mereka, yang anjir belum sebulan kenal juga„, kok kaya udah kenal bertahun-tahun yaa.. kok kaya temen TK terus kita ga sengaja ketemu di atas gunung.. (berle..)
bahkan, sekarang… rasa rindu menggebu-gebu,.. tiap malam, paling tidak, kita komunikasi di berbagai jejaring sosial yang lagi in banget itu loh.. selalu mikir, mereka itu temen kemarin sore… kok bisa sesayang ini yaa.. (anjir ini serius ga berle…) pernah kepikiran, gimana kalau mereka itu jahat, mereka itu ga asyik, mereka itu garing, mereka itu nyebelin, mereka itu cule (dalam bahasa anak gaul sunda yang artinya culas *kurang lebih begitu*), dan sejauh ini, pikiran itu tertampikkan… (semacam tidak terbuktilah *insyaAllah* :D)…
barudak kemarin sore (barudak itu semacam arek-arek)… terlalu membekas, di pikiran saya akhir-akhir ini.. bahkan dengan kata lain, mereka mengalihkan dunia ku (ponds) .. dunia bandung, yang sebentar lagi menjadi metropolitan itu looh mulai tertepikan… bahkan dengan mereka, saya yakin satu mimpi, itu mimpi yang bakal jadi kenyataan.. mimpi yang g cuma “ingin” tapi “akan” (sedeeep….)… ah sial… barudak kemarin sore itu racun sekaligus penawarnyaa… (yoiii..)
ga perlu saya ceritakan, gimana kronologis saya ngapain ke Jogja, karna itu biasa-biasa aja… kita skip, dan langsung ke malam hari, malam rame di kopi joss (kopi tak pernah ingkar janji bray…)„
ini semua berawal dari angkringan, 30 mei 2011 pukul 21 an..
kenal sama bang ali, kukuh, dan obi, waktu singkat nan indah, dilalui dengan main “seven skop” semacam permainan di las vegas, yang ntah kenapa kukuh g bisa memainkannya… dan yang lebih parah lagi, di Pangandaran (tempat saya skripsi itu loh, yang pesisir enjoy destroy itu looh… ), saya master maen poker sama seven skop (ada bukti poto au yang dengan ketentuan Tuhan, jongkok berkali-kali bahkan berpuluhan kali, karena saya mengalahkannya…hehe), tapi pas disitu, dimalam itu, yang cerah itu, yang pake “bayaran..” itu, saya ga dapet duit banyak, damn… cristy yang tiba-tiba jadi bandar koin gope an, disusul lena, disusul gigi, disusul siapa lagi yaa (anee  lupa)… ahhh.. jadi begitu lah singkat ceritanyaa… (jd ga singkat)
lanjut ke benteng, VrederBurg (bener ga yaa nulisnya?) …
ada orang maha jahil, yang dengan kesadarannya sendiri membuat saya berjalan kaki dari kopi joss ke vredeburg itu.. (mungkin dia mau ngetes kesungguhan saya naik gunung..mungkin loh yaa.. tapi ternyata salah, dia itu dendam, gara2 suka saya katain, dia itu siapa, dia itu yang ternyata kini menjadi soulmate saya..).. menjelang waktu shaur untuk indonesia timur, kita masihlah, bergaya bak poto model di VredeBurg itu.. ngerasa vredeburg punya mereka, ngerasa Jogja NU AINK (ungkapan orang sunda yang artinya… MEMILIKI)… ntah berapa ratus JPEG yang tersimpan mungkin dibeberapa komputer kukuh, obi, atau bang ali„, dan berapa MB juga menuhi memori komputer mereka… dan pasti, karena jarak jogja-bandung lumayan jauh, poto-poto itu di upload, agar kami di bandung kota kembang ini bisa lihat..
oke, kita skip beberapa hari setelah VREDEBURG (baca benteng coy)…
saya, lena, dan asti, yang dengan ikhlas hati “memperdalam” mata kuliah Sistem Pemerintahan Daerah (sispemda.red), efek dari keterlaluan enjoy ria dikampus wkt semester 4. dan dengan berat hati mengikuti lagi mata kuliah yang jujur aja, saya ga ngerti apa hubungan pusat dan daerah apalagi kalo disangkut pautin dengan regulasinyaa (so asik… )..
oke terima kasih 2009, kalian bawa kami ke Solo, sehingga, ada satu kesempatan lagi, untuk mengukir cerita di Jogja…
bis sore itu, dengan riang meluncur ke Jogja, bis yang isinya dikit, dan cuma angkatan kita aja di tambah ryan anak 2008 yang terlalu terbawa suasana bergaul dengan angkatan 2007.. bis yang selama perjalanan, lagunya “hamil duluan” itu… bis yang sebetulnya terancam Galelut (berantem) karena di dalamnya penuh bibit-bibit maha jahil dan ga pandang bulu melakukan kejahilan yang paling sadis sekalipun… (ga kok, ga gitu-gitu banget juga..)
dengan semangat 45, lena nyuruh saya siap-siap… (ambil tas nya dan jalan ke pintu depan) . hah??? secepat itu kah saya harus turun dari bis ini… (dalam hati).. pikiran langsung menerawang, tar malam naik gunung, Naik loh, jalan kaki, ga naik trail nya om, ga dibantuin mang ulep, mang pey, mang hafer, semua ajudan papa ga ada… (cie ajudan…)…
ritme turun dari bis Biasa, turun, nunggu bang ali, ke angkringan nyamperin bang opik dan babar, dan akhirnya saya harus dibonceng babar.. kita diem.. (iyaa diem-dieman…) ga ada satu kata basa basi yang terucapkan… liat, asti ngobrol, liat lena ngobrol… saya sih sebenernya pengen nanya.. “masih jauh?” tapi takut babar ngerasa jadi tukang ojek… (piss…) terus pengen nanya “ini UGM?” terus pengen nanya “jogja panas yaa” tapi itu g satu kata pun terucapkan„ babar, sekira nya kamu baca tulisan ini… km akan tertawa sendiri juga kan… dan kenapa km wkt itu g nanya duluan… hehhe..
jreng-jreng, sampailah di satu kosan, yang saya paham betul, berantakan, bersih dan kotor kosan tersebut, tergantung kadar kegalauan pemiliknya… (ngakuu boy..). yaa pas kami datang, keadaan bisa dibilang.. mereka sedang “biasa aja” (este…*sok tau*).. karna ada bagian yang beres, dan bagian yang berantakan… hehe…
bruuukkk…
saya yang memang sudah mendambakan kasur dari semenjak di DPRD Kota Surakarta… menjatuhkan badan dikasur, yang ternyata ibarat pembalut, kasur itu slim… :p. bukannya cule (semacam culas dengan konotasi dan arti paling sederhana ke anak-anak mudaan..) saya liat bang ali, sibuk nyiapkan alat-alat buat naik gunung dan saya cuma tiduran, dan lagi-lagi pikiran saya ke gunung yang tak pernah terbayangkan itu.
(dalam pikiran saya..)
gunung apa yaa namanya… ada di google gaa… disana da sinyal ga? ada wc? ada warung? ada jalan nya ga? kaya gunung di depan villa saya ga? gimana kalo tiba-tiba ada petir? nanti kaya anak wanadri yang kesambar petir di gunung wayang.. ada binatang buas g? gimana kalo tiba-tiba saya ngilang di balik kabut? gimana kalo tiba-tiba tangan saya terjepit tebing (like 127 hours)? dan yang paling saya takutin, ini siapaa… itu siapaa… ini lagi datang-datang ke kamar, gaya udah reggae maksimal, pasti anaknya bakal sok gaul dan nyebelin.. ini lagi yang punya kamar ini.. jutek bgt… malah suka teriakin saya ke temannya dengan kata “luluk” (kalo g salah deh gue lupa…) halo… gue ratuu… :p terus lagi ini obi sama kukuh, yang udah saya kenal (setidaknya kita pernah ketemu dan menggila di Vredeburg) kemanaa gitu… katanya disinilah disitu laah… dan saya tau mereka abis dari tempat yang cuma ada dalam mimpi saya… (envy…)”
tapi lama-lama semua mencair kaya es… lama-lama juga nunggu kukuh dan obi ga datang-datang… sekonyong-konyong obi datang, tiduran bentar dan pergi lagi, pukul sudah menjelang larut malam, dan saya masih tiduraan.. lagi-lagi saya bicara sama hati… “si saya yang di lahirkan oleh mama papa dengan banyak mang-mang yang siap melayani, kadang terbesit, bisa ga yaa sendiri, ga minta bantuan orang lain, apalagi sekarang, depan lena asti, saya g boleh lemah. abisnya lena bilang sama bang ali, kalau perjalanan naik gunung 2 jam bisa jadi 3 jam… ooo… itu mengakar dalam benak, dan mencoba untuk membuktikan, GA AKAN TERJADI…(asiik„,), terlebih, banyak yang meragukan kemandirian saya, termasuk, mama papa juga.. :’( (loh jadi curcol) ahhh itulah intinya…”
dan lamunan pun terpecahkan, dengan aba-aba, “ayoo pergi sekarang… kita siap-siap…” dengan kesengajaan saya malas bawa sepatu kets dan saya lupa kapan juga terakhir pake sepatu itu„, (tapi punya loh…) akhirnya minjem spatu bang opik yang bersih dan baru di cuci, dia itu loh sepupunya bang ali, yang masih aja kaku kaya kusen.. :D
satu orang lagi belum dataang„, itu yang namanya kukuh, belum datang-datang juga, (kemanaa yaa kukuh, jangan-jangan ga jadi ikut *dlm hati*).. tiba2 ada samar-samar bayang-bayang datang dr balik lorong kosan, sampai pas dia ngajak salaman, saya baru kenal ini kukuh, (kuh… maaf yaa kamu hitam sekali seperti kopi yang tak pernah ingkar janji.. hehe)
mungkin sekitar jam 1 waktu indonesia timur kita caw ke manaa yaa, dan masih pas disitu juga, saya belum inget nama gunungnya… saya sama bang ali, dan ntah kenapa semenjak perjalanan ini, saya merasa kita soulmate (ngetik ini tidak dibawah todongan senjata)… terus lena sama “pangaribuan” alias logo alias pargabus alias topan harahap, itu loh cowo bujangan asal medan, tapi 4 tahun di bogor, sehingga dia mengerti arti kata “kaleum”, si pangaribuan ini (panggilan kesayangan yang berasal dari susahnya saya menangkap kata pargabus) berasa rossy, jalan motor nya seenak nenek moyangnya, kalo mau nyalip suka menikung tajam.. oke lanjut asti dengan obi, iyaa obi yang baru pulang dari puncak maha dewa, mengendarai sepeda motornya dengan enjoy, serasa seharian kegiatan dia cuma tidur, padahal ngga…
kami ini pasukan belakang, bang opik dan kukuh, kemudian babar dengan moko, melaju kencang tak karu-karuan sampai tak terlihat batang hidungnya.. (piye to..). sampai akhirnyaa.. kita sampai di kaki gunung… dan sampai di kakinya saja, saya belum ingat nama gunungnya (walau berkali-kali nanya) ini bukan masalah lambatnya darah ke otak, tapi karna dia mendominasi pikiran saya„, (dia?? eaa… becandaa kali)
mulai Deg-degan…
liat ke atas, dan gelap, pernah sempet terpikirkan, ini Dinas Bina marga, sumber daya air energi dan sumber daya air mineral, pernah kesini ga sih„, bikinin lampu mercury kek, atau bikinin tangga kek, atau apa kek lah yang dapat menunjang kegiatan wisata. (skripsi saya loh… so?)
oke, naik„, dengan susunan dr paling belakang, bang ali, obi, kukuh, ratu, pangaribuan.. dan (tolong pangaribuan setelah km itu siapa).. berjalan dengan senang hati.. senang karna ini pertama kali buat saya, naik gunung tanpa motor trail, tanpa mang ulep, tanpa mang pey, tanpa mang aco, yang selama ini memanjakan saya..
semacam outbond dengan suasana jauh lebih menantang daripada area paintball di lembang (daerah di bandung)… oke, masih slow… tebing dan tali, oke masih slow… tebing dan tali lagi.. oke masih slow… tebing dan breet (bunyi)… obi kok ga muncul-muncul… ternyata dia nyangkut… padahal udah kaget tiada tara… oke obi jd maju di depan.. terus pas ada area yang 127 hours banget, anak-anak depan kok nyangkut ga maju-maju, ternyata babar menemukan binatang paling aulia takutin seumur hidupnya dan yang paling wesi (temen kampus) paling cari-cari untuk dijual katanya obat dan mahal. binatang itu ialah tokek yang saya ga perlu repot nyari bahasa latin nya di google kan cuy?
suasana semakin edan banget, pas satu-satu lampu center mati, dan yang paling di sesalkan oleh asti ialah, kenyataan bahwa saya dengan sengaja nyopot cashan senter dan diganti ngcash BB, yang plis bgt, ga anak gunung bgt deh… dan pasti, BB ga guna di atas gunung… hahha.. maafkan si kami karna kami newbie yaa agan-agan… piiiisss…. haha
dalam sunyi, tiba-tiba “naik-naik ke puncak gunung” hah??? penilaian saya terhadap cowo reggae dan tampang ga minus-minus amat ini langsung menjudge, ini anak tampilan kaya gini sih, bukan berguru kek Bob Marley tapi ke mbah surip..
mbook yaa, piye to, saya berharap dia nanyi
” one love, one heart, let’s get together and feel all right”
ehh, dia malah nyanyi “naik-naik ke puncak gunung”nah dari situ lah, saya merasa pangaribuan ini merupakan sosok mahluk langka yang slalu menutupi jati dirinya.. dia yang kuliah di photografi, mungkin menjiwai aktingnya, pura-pura, mungkin dia adalah penganut nike ardila sejati, dunia ini panggung sandiwara.. terlepas apa tujuannya, yang pura-pura ga tau reggae, pura2 ga tau Tarling pantura.. pura2 ga expert main gitar, tapi untuk lagu “naik-naik gunung” itu, saya yakin itu ga pura-pura, itulah dia yang sbener-benernyaa.. kekanak-kanakan walau pikirannya sudah agak porno. haha…
dan dia itu, menerangi jalan saya.. (tanpa ucapkan makasih, batin saya berterima kasih pangaribuan…)
oiii… kaleum boy | kaleum apaan.. | sek-sek…
semakin nanjak, semakin lelah, dan air semakin menipis (air? menipis?), dan bruuuk, lagi-lagi belakang itu penuh kejutan„, apalagi ini yang nyangkut?? ngebalik, ehhh„, babar tergeletak„, jleb, inget ade dirumah, namany sultan yaa 11-12 badannya sama babar, tapi gantengan ade saya, hehhehe.. saya tungu sambil ngeliat babar, tapi kok g bangun-bangun, bruk-bruk saya turun, dan nanya kabar dia (piye to.. masi aja nanya kabar…) ohh, saya punya kayu putih aromatherapy yang hampir sekali pake lagi itu, saya pijitin dikepala babar.. smoga babar inget jasa saya (kalaupun lupa saya mau ingetin, biar nanti kalo babar jadi pilot, ehh apapun yang berhubungan dengan penerbangan, bisa gratis.. haha).. dalam hati (ini orang yang bonceng saya pertama kali.. kok dia ga kuat gini… apa jangan-jangan gara2 td dia grogi ngebonceng saya, haha.. berle… dan g ada korelasinya juga… :p)
akhirnya babar bisa semangat lagi, dengan lagu-lagu dangdut, mengalun dari hp nya, sejujur-jujurnya saya g terlalu suka dangdut, bahkan bisa di bilang, plis„ jangan dangdut lah plis… (maaf bukan menyinggung siapa-siapa saja yang lagu dan muka nya dangdut banget.. @nomention) (terus ada yang mention @ratubulqiah) siaal… :p
mulai berat sekali dada, tapi woles (selow).. terlebih lagi, suasana di belakang tidak hening, yaa sekedar membangkitkan suasana biar terkendali aja sih maan… dan bang opikyang nun jauh disana, akhirnya saya bisa lihat… dan dia ini masih menjadi sebuah misteri.. terlalu sungkan untuk diajak bercanda waktu itu, mungkin pada saat itu jiwanya bukan bersama kami.. (aheey…)
sampai ditebing terakhir…ketemu sama 2 bapak-bapak, yang ntah kenapa begitu nyambung dengan kukuh, dan saya tidak mengerti bahasa mereka.. dan itu susah (tebingnya, bukan bahasa nya) … huh hah huh hah… aba-aba … dan saya slalu bilang “bisa…. (insyaAllah)” saya naik„, ooooooo…… sampai jugaa… terbayarkan??? SURE…
saya bisa lihat apa yang terlihat, indah… mungkin ini perasaan yang relatif, perasaan yang  ”pernah kok” menurut bang opik yang udah pernah kesini sebelumnya, perasaan yang “ga seberapa” buat obi yang baru pulang dari mahameru, perasaan yang “syukur bisa liat orang seneng” menurut bang ali yang udah ngajak igo bandungnya nyampe kesini, perasaan yang “santay aja lagi” buat kukuh, yang terbiasa dengan dieng, perasaan yang beda-beda, buat lena, asti, pangaribuan, moko, dan babar…
indah, ga cuma itu aja sih dibenak saya… saya menyesali 21 tahun tanpa petualangan, halo sebentar lagi 22 tahun, dan saya baru taklukan satu gunung… ohhh kemane aja gue selama ini.. ngapain ajee„, ada rasa yang ga bisa dibeli… ga kaya pas kita mau naik tornado, kita bisa beli tiket dufan, ga kaya pas kita pengen nonton pirates of the carribean kita bisa beli di XXI, ga kaya waktu kita pengen berkuda, kita bisa dateng ke Dranch (area berkuda di Lembang Bandung), ga kaya pas kita pengen ke pantai kita masuk loket retribusi Disbudpar, ga kaya kita pengen nyanyi, kita bisa sewa room ke NAV…
dan puncak gunung, itu ga bisa di beli…
saya duduk, lihat apa yang saya pengen lihat, saya nikmatin, ada taste yang beda kalau orang naik gunung, perasaan kaya kita naik kelas gara-gara belajar, perasaan dapet nilai A bukan karena nyontek, perasaan kaya kita udah bisa bikin senyum orang tua, perasaan yang sesuai dengan apa yang kita perjuangkan…
disinilah, saya baru merasakan betapa betul peribahasa-peribahasa Indonesia yang dulu sempat saya becandain di hashtag #peribahasa atau #soalbowbow di twitter..
ini lah betul yang namanya
apa yang kita tanam itu yang kita tuai
agak sedikit ganggu sih, dalam konteks, ini cerita naik gunung, bukan cerita liburan di rumah nenek…
tapi haloo, plislah, setidaknya itu yang menggambarkan perjuangan dari kaki gunung ke puncak gunung…
semua sibuk, ada yang mendirikan tenda, ada yang masak, ada yang cuma tiduran, ada yang bersihin tas nya gara-gara ketumpahan tuwak, ada yang main gitar, ada yang nyalain lagu dari hp, ada yang diem aja cengok, dan itu AKU.. (anjis kangen gila suasana kaya gitu… inilah ini yang membuat “remember you” ngena banget sekarang)
pengen update status “aing dipuncak gunung bro..”, pengen sms mama “mam, teteh tos di luhur gunung” (mam, kakak sudah di atas gunung)…
suasana semakin mencair, bintang, kopi yang tak pernah ingkar janji, dingin tuwak, rokok, gitar, mie, persahabatan, barudak kemaren sore, jatuh cinta, pecundang, memendam, menepikan, tenda, kamera, rasa, puas, bahagia, sedih, pengorbanan, dan impian… (mungkin ada yang belum saya sebutkan, nanti saja saya tulis kalau ingat..)
kita terbawa suasana, subuh, di Gunung Api Purba, ada cerita…
yang g ada habisnya diceritakaan….
sampai pada pagi,
pagi yang perut saya sakit sekali…
pagi yang saya harus di dorong untuk naik ke atas lagi setelah pipis…
pagi yang saya ga kuat ketawa lagi, ga kuat ngobrol lagi…
pagi yang saya lewatkan di tenda…
tanpa sadar diri… (berle nya tidur)
huaaammm….
bangun dan, sepi…
ihh pada kemana dah…
saya liat obi sama pangaribuan… (mereka jaga tenda, males ke puncak bareng anak-anak, atau jaga saya yaa?? dalam hatiii..)
nih minum air panas dulu | baik banget pangaribuan.. | baik gimana, kita yang repot kalo harus gotong km ke bawah, mending cuma siapin minum doang | 
hehehhe…. saya ketawa, dan saya suka persahabatan yang seperti ini… tak terucapkan… saya tau pangaribuan sebenernya kwatirin saya (pede… )
si obi lagi main gitar, pertama liat obi itu waktu di merapi, dia sama erny, saya pikir orang-orang yang jaga pusat informasi disitu, ehh taunya kita ketemu lagi di Angkringan, dan tanpa paksaan dan ancaman, si obi ini kalo lagi main kartu, maunya ngalah terus sama lena, dengan iming-iming “kita tetangga..” dan percaya apa tidak, obi dan lena itu tetanggaan di Jakarta, di kampung rambutan yang keras itu… (hidup ini keras coy…)
obi yang sampai ke puncak mahameru, yang meninggalkan kukuh di kalimati, karna tangannya mati rasa sebelah.. oohhh kalian ini sahabat yang super… keren sekali… yang mendahului saya ke tempat yang saya puja…
bi, bisa lihat apa di mahameru ? | ga ada yang bisa diungkapin, cuma air mata, saya speechless | oh (damn bgt dah, ini kamsud toh, biar saya makin tergila-gila sama puncak legenda itu *ngomong dalam hati*) 
anak-anak yang lain, semua naik puncak gunung lagi, mereka terlihat asyik foto-foto, dan moment itu tanpa saya… miriss… oo perut, kadang kamu ga seunyu biasanyaa… tapi maafkan saya yaa perut… :)
jreng-jreng mereka datang, tiba-tiba ngajak balik… saya lihat asti dan lena… teman yang sejak 4 tahun lalu menjadi sahabat saya, kami disatukan dalam salah satu kepantiaan futsal, yang tercatat sebagai pertandingan tersukses di abad ini di IP Unpad… saya sebagai Koor Danus, Lena sebagai Koor Acara, dan Asti sebagai Koor Medic. (dan kenalkan ini Giusty bisa dipanggil Gigi sebagai sekretaris, dan Aulia bisa dipanggil Au sebagai Koor Konsumsi, dan trakhir Cristy di Danus jg)
asti dan lena yang dengan bangga setengah mati nunjukin hasil jepretan di atas, dan dengan baik hati, cowo yang kini menjadi soulmate saya, mau mengantar saya naik ke atas cuma buat poto lagi…  tapi karna kondiis perut yang belum membaik, saya menolak dengan mentah-mentah (padahal dalam hati, watur nuhun yaa bang… :) )
turun, dengan saya dibelakang dengan kukuh dan bang ali, ntah kenapa dari awal naik, diatas, dan bahkan mau turun, saya sama kukuh ga pernah akur…dan bang ali slalu membelaa… (weee„, kasian deh kukuh :p) akhirnya dalam kondisi terjal…
kuh bantuin ratu kuh | lah ngapain dibantuin bang, ngapain juga kita harus pura-pura peduli kalo kita ga peduli | 
oh gitu kuh, menyebalkan | yaa becanda kali | huuh…. 
kita masuk ketebing paling sempit se Indonesia raya, buat liat mata air yang pas nyampe, mata air itu g ngalir, terlebih ada jejak orang semedi, yang ntah di tahun berapa orang itu semedinya, yang jelas, ada kakinya… (jejak kakinya to, bukan kakinyaa)  abis gitu kita naik ke tebing lagi dan liat banyak monyet-monyet (tanpa mau menyinggung siapapun) hehhe…
setelah itu,merasa terskip kan susunan jalan kita, yang tidak tau kenapa, saya tertinggal jauh dengan anak-anak…. saya sama moko… moko yang hobi banget di poto pake kaca mata item, dan ga punya bakat jadi cover boy, bukan karena tampangnya yang terlihat agak minus, tapi karena gaya nya yang itu-itu saja… hahahha.. piss moko…
moko yang sejak dipuncak malah sibuk bersihin tasnya yang tetumpah tuwak, dan malah seneng dengerin lagu dari BB nyaa…. ehh moko anak gaul yeee… ngerii.. ehehehhe…
mok, yang lain kok ninggalin | tau nih.. | atuuh moko takut… | 
bruuk, saya jatuh lumayan terjal di tebing dan menyisakan kaki biru-biru sampai sekarang.. (tapi gpp… bahagia di atas puncak sudah mengalahkan rasa selainnya..) dan baru itulah, saya denger moko ketawa lepas… anjrit ini orang dalam hati, malah ketawa bukannya panik, liat orang jatuh, ini tebih looh ini tebing yaa, bukan selokaan… iyuuuwhhhh….
barulah, dia bilang, sini bawain satu barangnya… dalam hati “lain titatadi beulll..” (bukannya daritadi su..) hahahha…
dan ada pertanyaan paling konyol dalam periode SBY saat ini,
sakit tu?
moko, kurang ASI nih waktu bayi, hahahha..
dan oooo.. saya lihat perkampungan yang masih di bawah… dan ternyata,pas kita rasa kesasar, dibalik semak-semak munculah, sejenis monster, ehhh… hehehe.. munculah soulmate yang speaknya sih ngikutin kita dari belakang, padahal dengan yakin seyakin-yakinnya, saya dan moko ga lihat dia dari tadi.. hahaha…
sampailah kita di tempat parkir motor, dan puji Tuhan, masih ada orang yang baik kaya bapak yang pakai baju biru, yang menyediakan teh dengan merek sariwangi beserta kopi yang tak pernah ingkar janji dan gula, juga air panas… tanpa pamrih… tanda tanda jasa… tanpa iming-iming…
pak, kalo saya udah di kementerian kebudayan dan pariwisata, saya pasti inget bapak… bapak menanam kebaikan pak, mungkin juga menanam tanaman lainnya yang ada di halaman rumah bapak, yang di rusak oleh babar… maafkan kami yaa pak, nanti saya pasti inget tempat ini pak… suatu saat bapak akan menuai kebaikan yang bapak tanam… makasih bapak… kalau ada kesempatan saya mau mampir ke tempat bapak, napak tilas puncak awal keberhasilan saya nanti di Mahameru pak… saya bawain edelweiss buat bapak… insyaAllah… (amin)
perjalanan pulang…
mie ayam 5 ribu yang banyak seanjing-anjing… yang ohhh, ini menakjubkan kedua setelah puncak gunung api purba….
pulang pergi gunung api purba, telah membuat saya mengetahui bang ali, bahkan saya diberi tahu hal-hal yang sudah dia beritahu sebelumnya… sampai saya hapal betul kisahnyaa…. :)
dan kita itu sama….
malioboro…
setelah istirahat di kosan sebentar, saya dimalioboro, ada yang lain malioboro sekarang…
ada perasaan beda, ada perasaan yang berharap “smoga ga dapat tiket malam ini”
dan detik-detik menjelang pulang, kukuh yang dari awal memang sangat menyebalkan, menjadi seorang yang lumayan baiklah… setidaknya kalau ngobrol agak nyambung…
sampai pada di kopi joss, detik2 trakhir, kukuh cuma diem aja… g tau apa yang dipikrin„ bang opik, yang belum makan dari kemaren, ada bang ali, ada obi, ada lena dan ada asti…. keadaan masi ramai….
sampai pada jam 9… si kereta yang besar dan menuju bandung hendak pergi…
kita bergegas ke stasiun, sampai di pintu loket, saya lihat, mana bang ali??? bang ali kok g adaa yaa???? sampai saya harus menoleh ke kukuh, untuk memberikan tas saya yang dia bawa…
tanpa kata… saya naik ke kereta…
melewati 4 atau 5 gerbong, tiba-tiba..
RATU…. | 
bang opik memberikan korek lena yang di pinjam tadi… saya menoleh ke kanan, dan baru sadar,bang opik, kukuh dan obi, lari ngikutin kita, sampai mereka ga lihat kita lagi, dan kita lihat mereka….
dan tanpa kata , saya ambil korek dari bang opik, yang dengan suksesnya naik ke atas gerbong… itu adegan paling dramatis yang pernah ada… adegan cinta ngejar rangga.. END…
sampai pada akhirnya di kereta, saya dan asti, merasa sangat terharu… dan betul-betul terharu…
bang ali? soulmate kemana??
besok nya saya baru baca sms  bang ali
saya ga sanggup liat kalian pergi…..
baca sms kukuh
jogja seketika sepi
baca  sms bang opik
kalian jangan pada nangis, berlee…
baca sms obi
kalian hati-hati yaa…
oke… begitulah alasan kenapa begitu membekas “barudak kemarin sore” dibenak saya, dihati saya, diingatan saya, dihidup saya. kenal mereka baru 24 jam, dan banyak moment yang bahkan dari jam 9 pagi sampai jam 2 sore ini saya tuliskan tak terceritakan semuaa…. dan saya menepikan tiket mahameru untuk menulis ini.. oh.. plis semangatin saya yaa..
makasih…
kalo ada yang lebih dari makasih, saya kasih pasti buat kalian…
ratu bulqiah ulfa. kukuh jualianto gunadi. muhamad fadlu robby. wiratmoko yanwar. ali akbar siregar. topan harahap. taufiq siregar. wirasti sarasati. ali akbar harahap. lena daniyati
irememberyou.

 

Dari RATU tuk Sebuah pencapain dalam persahabatan...

October 19, 2011
      Tickets for Mahameru


bang ali, kukuh, bang opik, obi, pangaribuan, babar, moko…
ini tiketnya sudah jadi…
makasih yaa, makasiiih yaa„sek.. yoo..sek..

  1. Tiketnya sudah ditangan !!! tiket yang tidak lain tidak bukan adalah si 236 halaman yang berfont times new roman!! mereka…(bukan si 236)  janji mau nunjukin mahameru ke saya.. mereka janji mau nganter, asal serahkan dulu tiketnya (yang ini si 236) !! nih saya kasih nih.. saya sudah selesaikan..!!!
    gara2 doktrin itu, saya ga pernah update status “mau sidang” “mau draft” “mau UP”, haha, karena saya mengibaratkan ketiga hal besar tersebut menjadi rangkaian perjalananan Semeru, jadi seperti inilah tweet-tweet saya..
    “IBARAT MAHAMERU, SEKARANG SAYA DI RANU KUMBOLO”
    ini pas saya lagi revisian dan bimbingan setelah UP…
    “IBARAT MAHAMERU, SEKARANG SAYA DI KALIMATI”
    itu pas saya draft…
    “IBARAT MAHAMERU, SEKARANG SAYA DI ARCAPADA”
    itu pas saya sidang…
    “IBARAT MAHAMERU, SEKARANG SAYA SUDAH PUNCAK MAHAMERU”
    ini pas abis sidang.. :)
    Tunggu yaa teman-teman menggapai puncak… tiket ini ga ada basinya kok…
    saya harus kesana.. saya harus speechless kaya obiii…tapi jangan sampai mati rasa kaya kukuh di kalimati.. atau jangan sampai hipotemia kaya saya di puncak prau.. atau jangan sampai kram kaya bang ali di perjalanan menuju prau.. saya harus kuat yaa… kuat… sekuat-kuatnya kuat.. kita harus kuat„ seperti di puncak GUNUNG API PURBA…:D
    kita bisa…

    saya haturkan terima kasih, saya pikir mahameru cuma bakal jadi angan aja, kalian selalu menyemangati saya, kirim YM, sms, Email, bbm, isinya..
    semangat untuk Tiket Mahameru..
    ga kerasa, post tumblr ini, post ke-4 tentang kalian.. oia, masih ada di draft cerita kita di Prau„ si 236 kemarin2 menghambat untuk post berjudul “ceritanya baru di mulai”… suatu saat akan di publish… jika memang sudah waktunya..
    saya janji sama bang ali, saya akan selalu jadi penulis, kisah nge-TRIP kita…
    saya ga sabar, nulis cerita kita di semeru..
    kisah yang saya awali dengan kalimat..
    STASIUN MALANG KOTA BARU…..
    aminnn…
    :) makasih yaa, selalu ada cerita manis setiap kita ngeTrip, terima kasih selalu mau menampung kita di Jogyakarta… terima kasih, selalu ada yang ga bisa di beli setiap petualangan kita… terima kasih telah mengiming-imingi saya mahameru, menambah 1 alasan saya menyelesaikan tiket ini secepatnya…

    KOPI TAK PERNAH INGKAR JANJI, SAMA HALNYA KITA..
    *tinggal diklik cendolnya, gampang, gitu aja ribet ! :sotoy: :nohope: :hammer:

Sunday, June 26, 2011

Secarik Kisah

Jatinangor, aku tumbuh menjadi gadis dewasa dan mandiri di jatinangor, dulu aku perempuan manja yang semuanya selalu di layani apa-apa tinggal minta tolong, mau pergi minta anter sopir, mau makan minta di masakin si mbak, kal sakit tinggal merengek ke mama dan papa, kal marah minta dirayu kal permintaanya ga dituruitin ngambek yang ujung-ujungnya nangis trus papa dateng merayu dan mengabulkan permintaan ku . Tapi di jatinangor itu semua berubah, aku disini sendiri di kota kecil bagian dari Kab Sumedang. Di sini aku belajar naik angkot kemana-mana sendiri, mau makan cari sendiri kal engga masak sendiri, kal marah atau punya masalh berusah menyelesaikan sendiri, kal sakit urus diri sendiri, ke dokter sendiri, ga ada lagi papa yang bakal ngerayu aku kal aku ngambek, aku ditempah menjadi perempuan dewasa dan mandiri, aku di ajarkan arti saling menghargai, saling menjaga perasaan, saling mencintai, saling peduli, dulu aku orang yang cuek mana peduli ama masalah orang bodo amat hidup, hidup lo urus aja sendiri, disini semua ga bisa kaya gitu sesama anak perantauan kita saling menjaga, saling menemani, saling menasehati. sebelum papa terkena sakit kanker, papa pasti dateng buat jenguk aku setiap bulan, buat ajak anak paling sulungnya tapi paling manja buat jalan-jalan. Tiba-tiba semua itu berubah aku ingat sekali di bulan mei tahun 2008 papa di vonis kanker stadium 3 dan sudah masuk ICU setelah endoscopi saat itu dunia ku serasa runtuh hancur berkeping-keping, yang ada di pikran ku Tuhan aku ga sanggup kehilangan papa sekarang lebih baik aku yang pergi dari pada papa, di saat yang bersamaan aku harus tetap tersenyum dan tertawa tanggung jawabku sebagi MC di acara kampus membuatku menahan air mata ini di hati, ingin sekali saat itu aku berlari ke jakarta, ingin sekali aku memeluk papaku, pedih ku sudah tidak terbendungkan, aku pulang ke kosan menangis sendirian aku merasa hidupku hancur, lebih baik aku kehilangan 1000 kekasih di banding seorang papa yg sangat aku cintai melebihi apapun, dia adalah separuh jiwaku, nafas kehidupanku, detak jantungku, cahaya hatiku, kal orang yang kenal aku, mereka akan melihat betapa manjanya aku dengan papaku, betapa dekatanya kami.
 akhirnya aku pulang ke jakarta setelah menyelesaikan tugasku di jatinangot TERCINTA, tiba di jakarta aku langsung menuju salah satu rumah sakit internasional di daerah kuningan, saat tiba air mataku langsung tumpah, tapi mam menahan ku untuk tidak menangis, jangan nangis boru kasian papamu dia ga sanggup liat kal menangis, pasti dia ikut menangis sedangkan papa saat itu tidak boleh sedih, aku tahan air mataku aku peluk papaku dengan tubuh gemetar, aku tahan air mata ku, aku atur suaru ku agar tidak bergetar, tapi itu semua gagal ketika papa bilang udah nyampe boru hasianki, sehat kan kau inang, ga sakit kan kau inang, jangan sedih ya boru papa ga akan pergi tak sanggup lagi aku  menahan air mataku, hatiku serasa ditusuk aku menangis aku berlari keluar, ku beranikan diriku untuk masuk lagi keruangan papa ku hapus air mataku, ku bawa senyum termanis ke depannya, aku kecup keningnya aku bilanh " Eh bapak Timbul Hutagaol mana gigi ompongmu, lalu papa tertawa ga sopan ya kau sama papamu, betapa sejuk dan daminya hatiku melihat papa tertawa, udh lah inang sakit kal ketawa". papa dirawat selama 2 minggu sehabis itu dia pulang untuk menjalankan cemo, setelah papa yang pulang ternyata aku ambruk, kurasa saat itu tekanan dan pekerjaan yang banyak membuat ku stress berlebihan hingga aku sakit, aku awalnya ga mau bilang ke papa, tapi aku tidak bisa kal tidak mengadu ke papa, biasanya kal aku sakit aku pasti akan menangis di telepon minta di jempet papa, tapi saat itu semua berbeda dengan dewasa aku bilang papa lena sakit, badan lena panas tinggi, lena muntah, ga bisa jalan tapi gpp kok pa, nanti len ake dokter ya papa ga ush khawtir lena bisa urus diri lena sendiri, namanya oarang tua mana bisa tenang setiap jam selalu nelepon,"gmn boru masih panas ya, gmn badanmu masih ngilu, masih muntah ga, aduh inang jangan sakit lah papa ga tenang", aku bilang gpp pah aku cmn kecapean besok aku pulang ya, ga ush di jemput aku anik bis Prima Jasa aja, bisa inang, kau gpp pulang sendiri, udah di jemput sopir aja ya, aku bilang engga papa aku bisa kok sendiri udah papa ga usah sterss papa kan ga boleh stres. besoknya kau pulang mungkin saat di perjalanan panasku sampe 40 ntah kenapa aku ga pusing, aku ga lemes aku merasa sehat. Tiba di rumah datang menyambutku di pintu mama ku yang super duper cerewet, langsug dia megang jidatku aduh lena ini panas sekali, udah mama gpp aku cuman kangen rumah nanti juga sembuh. ini lah yang paling aku rindukan saat ini kal sakit ada mama yang ngurusin, semua makanan kesukaan ku dituruti aku bak putri raja yang segala sesuatunya di anter aku ga boleh turun dari temapt tidur, papa tidak bisa menemani aku tidur biasanya kal aku sakit pasti papa akan tidur sambil memelukku, dia dibawah dan tidah bisa naik ke atas, dasar aku manja ake nangis lagi sedih ga ada papa yang memeluk aku, hahahahha. malamnya keadaan ku tidak membaik, papa yang cemas memanggil bapak tua(sebutan org batak untuk om yang paling tua) kakak, dan abang ku aku dilarikan kerumah sakit internasional Mitra bekasi timur  karna aku bersama dengan kakak ku yang bekerha sebagai perawat disana aku ga perlu ngantri lagi, di cek panas ku 40 saat itu langsung saja dokter menyaran kan tes darah dan hasilnya aku positif tipes, hari itu juga aku dirawat padahal aku sudah merengek ke bapak tua untuk tidak dirawat maklum aku takut jarum suntik. Ternyata papa menagis dirumah dia merasa sedih kenapa di saat dia sakit anaknya harus sakit juga, dia merasa sedih tidak bisa menjagaku,  mama juga nangis dia merasa cobaan datang bertubi-tubi papa belum sembuh aku malah masuk rumah sakit aku sih di kasih tau ama kakak aku mana mau mereka ngasih tau kesedihan mereka. hari kedua kau dirawat papa dateng ke rumah sakit sebelum dia melakukan cemo therapinya. aku liat wajahnya yg letih karna cemo tapi dia berusah untuk menjenguk aku, papa bilang ga akan tenang sebelum melihat boarunya yang satu ini. saat itu dalam hati aku bilang LUV U SO MUCH PAP semenjak itu aku tanamkan di dalam hati dan pikaran ku, aku harus dapet laki-laki yang seperti papa, dia tolak ukur ku dalam memilih laki-laki, kal tidak seperti papa aku ga akan mau hahaha, setelah seminggu dirawat aku pulang kerumah, hanya dirumah 2 hari aku langsung lari lagi ke jatinangor tugas dan tanggung jawab aku menunggu disana, aku singkirkan dulu rasa khawatir meninggalkan papa, aku singkirkan kan pula kesehatan ku. Papa sebenernya melarang aku pulang dia bilang istriahat dulu dasar aku keras kepala aku tetep pergi ke jatinangor dengan kondis yang masih lemes, aku sih ga tunjukkin ke papa kal di tanya sehat boru aku jawab sehat bosssssss, 2 minggu di jatinagor aku kembali ke jakarta papa minta supaya kau yang nemenin dia cemo, aku pikir cemo itu papa di masukin ke tabung terus disanirin ternyata pake infus, biarpun cmn infus dampak dari cemo itu besar bisa botak, kurus, kulit menghitam, tapi papaku kebalikannya dia jadi Gendut banget, mukanya cerah ya emg rambutnya agak rontok tapi ga banyak jidatnya jadi plontos kaya lapangan terbang hahahha.
papa menjalani 10 kali cemo, berarti selama 10 kali itu dia kesakitan tapi dia tidak pernah mengeluh dia selalu tertawa pokok nya papa ku paling d'best lah. hal yang paling bikin papa suka marah kal aku nemenin dia cemo adalah aku selalu tidur, pernah sekali papa manggil-manggil aku buat minum aku ga denger malah asik aja tidur, untung mama ku cerdas ga dibiarin dia aku jaga papa sendiri dia tau anaknya ga bisa diandelin buat jaga malem hahahaha, dia suruh uda aku untuk nemenin papa bareng aku, jadi uda aku yang ngurus keperluan papa sedangkan aku tidur hahahhaha, paling kal udh bangun papa cmn bilang nyenyak boru tidurnya, sampe papa ga bisa nafas harus dibantu pake oksigen aja kamu tidur hahahhaha, tapi papa ga pernah marah padahal aku udh lalai banget. akhirnya aku bisa bernafas lega cemo papa berakhir tinggal melakukan rawat jalan, aku kembali fokus ke jatinangor dengan perasaan sedikit lega walaupun aku trauma menerima telepon dari rumah aku takut mendapatkan kabar keadaan papa memburuk, aku cmn bisa berdoa dan menyerahkan semuanya sama TUHAN aku titipkan papa ku, di setiap doa ku tak lupa aku bilang untuk selalu menjaga papa ku.
Kembali ke jatinangor nah disini di mulai  lah petualangan ku, aku menjadi gadis liar Aku bebas melakukan yang aku suka. aku pulang  malem, aku minum, aku merokok, aku pergi ke luar kota sesuka hati ku, aku bergaul dengan siapapun tapi masih dalam batas aku ga pernah melakukan hal yang akan menyakiti papa ku. teman-temanku suka menyebutku gadis penggoda hahahhaha, bukan penggoda yang aneh2 ya, aku bukan penggoda om2, aku org yang bebas, org pun bebas mau melakukan apapun di depan aku asal tidak merugikan ku, di jatinangor aku berpetualang dengan kisah percintaan hahahha, aku dkhianati, aku disakiti yah itu lah cinta kal ga siap di sakiti jangan pernah jatuh cinta. aku punya banyak teman, aku menikmati kebebasanku, aku ga perlu jadi lena yg manis dan manja. aku bebas berekspresi,disini aku belajar persahabatan namanya pertemanan ga akn pernah mulus pasti ada berantemnya tapi aku nikmati dan pelajari, Asti, Aulia, Ratu., Christy, Gigie mereka memberi warna dalam hidup ku, mereka semua itu gadis bodoh yang bersatu jadilah kami makin bodoh hahahhaa baru kali ini aku bersahabt dengan wanita biasanya sahabatku selalu laki-laki. awalnya aneh karna harus menjaga perasaan namanya perempuan kan lebih sensitif dulu kal bergaul dengan sahabatku yang laki-laki aku bebas aja mau ngapain karna mereka kan memaklumi hahaha tapi dengan mereka aku belajar untuk saling menghargai. hal yang paling konyol dari kami berenam  kal salah satu dari kami putus pasti kami kan ke villa Ratu untuk karokeaan ntah kenapa pasti selalu seperti itu kami akan bernyanyi dari lagu galau sampe dangdut pantura hahahha, dan kal lagi galau kamu paling suka nyanyi lagu dangdut. sekarang lagu dangdut yang paling ngetren yg bikin kami goyang adalah "HAMDUL ALIAS HAMIL DULUAN "hahahhaha.
mungkin aku akan menceritakan sedikit karakter teman-temanku ini. Ratu Bulqiah Ulfa : Mungkin orang-orang mengiranya dia gadis polos itu salah besar Ratu bukan gadis polos walaupun dia harus tiba dirumah pada pkl 18:00 tapi ratu  bukan gadis polos (mukanya aja yang sok polos hahhaha) ratu itu energik, suka tantangan, suka hal-hal baru, gila akan pengalaman ( dia selalu bilang pengalaman ga bisa di beli apapun, harta ga akan bisa beli pengalaman) saya bangga dengan Ratu walaupun dia susah minta izin untuk keluar bahkan kita teman-temannya harus membantu dia berbohong agar dapet izin tapi dia selalu berusaha untuk mengerjar impiannya, Pintar (beberapa orang menganggapnya gadis lemot karna harus menjelaskan berkali-kali kalimat yang kita ucapkan) bukan dia tidak mengerti dia hanya ingin lebih meyakinkan isi dari percakapan, tapi kadang-kadang saya suka bingung ama dia hal sulit dapat mudah dia mengerti sedangkan hal simpel yang kita bicaran sulit sekali dia mengerti. hahaha, Ratu gadis yang kuat walaupun air matanya sering tumpah memebasahi pipinya yang putih tapi di hatinya dia lebih kuat dari kami semua, ratu itu penyabar jarang sekali dia marah ke orang hatinya penuh maaf. kal anda suatu saat pernah bertemu dan berbicara pada gadis yang bernama Ratu Bulqiah Ulfa perhatikan ga ya bicaranya yang ceplas-ceplos, perhatikan setiap ucapannya pasti suka ada yang salah atau kebalik dan yang harus anda dengarkan dia tidak bisa bilang D alias cadel D hahahha. Ratu semberono coba kasih barang ke dia kal ga lupa di taro dimana atau hilang tak berjejak saya salah satu korbannya kaca mata saya hilang hiks...hiks...hiks hahhaha, Oke cukup untuk ratu garis besarnya dia gadis Sunda yang CANTIK kal anda bertemu dengannya dan anda laki-laki pasti anda akan terpana melihatnya. Giusty Bayuwardhani : panggilannya Gigie, gigi gadis yang pintar, rajin, pekerja keras dan perfeksionis kal kita sekolompok dengan dia tenang dan sabar saja mendengar ocehan dan marahan dia serahkan semua ke gigie pasti selesai dengan hasil yang memuaskan haha, gigie itu gampang banget pundungan kal ga diturutin keinginannya atau ada hal yang tidak sesuai dengan apa yang dia mau, saya inget banget waktu itu kita ber enam janji mau ke salon biasalah perempuan tapi tiba-tiba ada hal yang lebih penting yang harus kita lakukan disana khususnya saya dan asti saat itu sangat sibuk sekali kita undurlah beberapa jam kepergian kita tiba-tiba saja gigie ngambek dengan mata yang berkaca-kaca " Atulah kita jadi pergi kesalon apa ga sih, kal ga saya mau pulang" ( dengan bibir manyun-manyun hahahaha) tapi itu ga akan berlangsung lama cukup diam kan saja gigie setengah jam pasti dia akan kembali ceria sendiri tidak ush dirayu kal dirayu kadang-kadang malah jadi makin ngambek hahahaha, gigie hobi banget belanja kita sih sebenernya cuek aja dan bodo amat dengan hobi dia yang satu ini, tapi gara-gara hobi dia yang satu ini di akhir minggu kita harus medengar ocehannya yang bikin kuping pengang "atulah duit saya kok udh habis ya padahlal ini baru hari kamis, kemana aja ya duit saya, aduh saya ga punya uang saya harus irit nih berarti" (padahal dia sendiri yang cerita baru belanja ya wajarlah duit  dia habis) kadang-kadang kita cumkan bisa ngelus dada, Sudah sangat maklum Hahaha. Gigie juga perempuan yang suka berpetualang. Secara garis besar Gigie perempuan Sunda yang wajahnya ayu sekali tapi mirip orang cina kal kalian bertemu sekali mungkin anda berfikir kal Gigie ada keturunan cinanya.
Wirasti Sarasati : nah ini dia bisa di bilang saya paling sering bersama perempuan ini, panggil saja dia asti perempuan keturunan Jawa batak ini perempuan Cantik, Tomboy, Selebor, Pintar, tegas dan Pemberani diantara kita semua dia orang yang paling nekat pulang kebandung dari klaten naik kereta ekonomi, suka sekali mengendarai berbagai jenis motor saya pernah jadi korban dari kenekatannya hahaha tap saya tenang kal bersama asti hal-hal nakal ata hal-hal nekat yang kami lakuin akan menjadi tantangan yang menarik dan ga akan pernah dilupakan, di balik sikapnya yang tomboy tersimpan kehangatan hati dan sikap keibuan sikapnya yang penyayang dan sangat peduli akan sesama menepis pandangan kita akan asti yang misterius, terkesan pendiam ( anda semua tertipu dia itu kal udh ngomomg mulutnya kemana-mana alias cablak hahahaha), jorok (nah ini ga bisa dirubah dari kami semua asti itu paling jorok ntalah padahal dia didik dengan gaya jawa yang keras tapi ga ada satu pun yang tercemin dalam gaya berpakain dan kamar kosnya hahhaha) asti paling ga bisa menolak permintaan kita terkadang dia mengesampingkan keperluannya demi Teman-temannya, saya sudah berkali-kali mengingatkan dia terkadang kita harus lebih peduli dulu dengan diri sendiri baru kita peduli dengan orang lain. asti  sebenarnya paling lemah kal soal fisik diantara kita ber enam dia yang paling suka sakit, tapi itu semua tertupi dengan gayanya yang cuek dan tomboy.Aulia Anissa Kamelina
udah akh cape lanjut besok lagi yeee

BY LENA